Iklan
Pandangan Ilmiah: Apakah Puasa Membantu Atau Mengganggu Sepakbola?
Selalu menjadi perbincangan menarik, apakah menahan lapar dan dahaga selama Ramadan mengganggu sepakbola?
30 Agu 2009 16:30:07
Oleh Agung Harsya
Umat Islam seluruh penjuru dunia sedang menjalani ibadah bulan suci Ramadan. Salah satu bentuk ibadah yang dilakukan selama sebulan penuh ini adalah berpuasa dengan menahan lapar serta dahaga sejak fajar hingga senja.
Di dunia sepakbola, muncul pertanyaan menarik. Apakah dengan berkurangnya asupan energi dari makanan dan minuman seorang pemain masih mampu bermain dengan kemampuan terbaiknya?
Banyak penjelasan ilmiah yang mencoba menjelaskannya. Tapi, yang harus dipahami adalah dari satu titik pandang, pemain hendaknya dibebaskan dari keputusan untuk berpuasa atau tidak. Hak individu harus dihormati dalam sepakbola. Para pemain bisa menjalankan kewajiban sesuai isi kontrak dan pelatih juga bebas menentukan pilihan.
Tetap saja, pertanyaan masih membuat penasaran, apakah puasa menguntungkan dari segi fisik seorang pemain.
Kepada Mohammed Bhana dari GOAL.com, dokter FIFA Yacine Zerguini menyatakan awal pekan ini, "Cara terbaik menurutku adalah menghindari polemik ini. Kita harus mengkajinya dengan tenang."
"Tak ada penelitian ilmiah yang secara serius diterapkan selama bulan Ramadan berkaitan dengan efeknya terhadap kesehatan pemain atau bahkan membuat penampilan mereka menurun."
"Penelitian yang terbaru, seperti yang dilakukan Umid Karli et. al dari Turki, dan oleh F-MARC dan FIFA (Zerguini, Dvorak, et.al) yang dilansir Desember 2008 dalam suplemen jurnal Sport Sciences, membuktikan hal yang sebaliknya."
"Puasa tidak membahayakan, malah sebuah anugerah. Semua studi terbaru membuktikannya tidak berdampak negatif kepada penampilan."
Dalam penelitian F-MARC, Dr. Zerguini menjelaskan ada pandangan utama tentang sepakbola dan puasa bahwa dalam lingkungan yang terkendali, strategi bisa diterapkan untuk mencegah efek buruk.
Penelitian tidak memberikan jawaban yang bisa membuktikan pandangan bahwa menunjukkan puasa secara langsung membuat penampilan menurun, juga tidak membahayakan bagi para pemain.
Dalam penelitian tersebut, 55 pemain Aljazair menjadi obyek penelitian selama Ramadan untuk dilihat kondisi serta penampilan fisik mereka. Hampir 70 persen responden merasa kondisi mereka menurun selama latihan, sedangkan data menunjukkan ada penurunan "signifikan" dalam kecepatan dan menggiring bola.
"Fase tanpa asupan makanan dan pola tidur yang berubah mengakibatkan perubahan penampilan secara fisik. Atlet beragama Islam harus membuat strategi yang bisa memaksimalkan penampilan selama Ramadan," bunyi kesimpulan penelitian.
Namun, dalam penelitian F-MARC selanjutnya, versi 2008, memberikan hasil pengamatan dari kelompok pemain yang berpuasa di tengah-tengah pemain yang tidak berpuasa.
"Tujuan utama penelitian ini memberikan informasi tambahan dan data ilmiah untuk memahami latar belakang filosofis agama Islam demi mengoptimalkan latihan harian dan daftar diet terkait penampilan pemain secara fisik dan mental," bunyi abstrak penelitian.
Satu-satunya hasil negatif dari kelompok yang berpuasa adalah mereka melaporkan merasa "kurang siap" berlatih dibandingkan kelompok yang tidak berpuasa. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan tak ada penurunan dalam penampilan fisik, mungkin disebabkan karena pemahaman untuk memberikan asupan gizi setelah senja dan sebelum fajar sudah lebih baik.
"Dapat diperdebatkan bahwa dalam penelitian kurangnya asupan makanan dan minuman akan menimbulkan efek. Ramadan tidak berpengaruh langsung soal ini. Secara ilmiah, selama 24 jam, puasa Ramadan tidaklah puasa penuh! Hanya makan dan minum dalam jam yang berbeda," jelas Dr. Zerguini.
"Namun, konsep penting tentang siklus tidur dan aturan diet tak bisa diabaikan. Begitu juga dengan periode penting agar metabolisme pemain bisa beradaptasi dengan jadwal makan dan minum yang berubah."
Penelitian tahun 2006 memberi kesimpulan, "Penampilan fisik secara umum meningkat [saat berpuasa], tapi penampilan saat bertanding tidak dihitung. Kami merekomendasikan agar pemain mendapat cukup tidur dan gizi bagus selama Ramadan untuk menunjang penampilan serta kesehatan mereka secara umum."
Dalam kata lain, ada tiga hal utama dalam penelitian ilmiah yang dilakukan berkaitan dengan puasa.
Pertama, jika dikendalikan tanpa optimalisasi, puasa bisa mengakibatkan dampak negatif bagi beberapa pemain.
Kedua, banyak cara meminimalisir resiko menurunnya penampilan.
Ketiga, mengatur asupan makanan dan minuman selama jam-jam tidak berpuasa kemungkinan besar menjadi kunci terbesar untuk strategi yang sukses.
Dr. Zerguini memberikan kalimat penutup tentang pentingnya penelitian lebih lanjut, "Kami belum tahu terlalu banyak soal puasa Ramadan dan latihan. Debat ilmiah ini masih harus berlanjut dengan bantuan para profesional di bidangnya."
Daftar pustaka:
Zerguini Y., Dvorak J., et al (2008) 'Influence of Ramadan fasting on physiological and performance variables in football players: Summary of the F-MARC 2006 Ramadan fasting study', Journal of Sports Sciences, 26:1, S3 — S6
Zerguini Y., Kirkendall D., et al (2006) 'Impact of Ramadan on physical performance in professional soccer players', British Journal of Sports Medicine, 41, 398-400
Umat Islam seluruh penjuru dunia sedang menjalani ibadah bulan suci Ramadan. Salah satu bentuk ibadah yang dilakukan selama sebulan penuh ini adalah berpuasa dengan menahan lapar serta dahaga sejak fajar hingga senja.
Di dunia sepakbola, muncul pertanyaan menarik. Apakah dengan berkurangnya asupan energi dari makanan dan minuman seorang pemain masih mampu bermain dengan kemampuan terbaiknya?
Banyak penjelasan ilmiah yang mencoba menjelaskannya. Tapi, yang harus dipahami adalah dari satu titik pandang, pemain hendaknya dibebaskan dari keputusan untuk berpuasa atau tidak. Hak individu harus dihormati dalam sepakbola. Para pemain bisa menjalankan kewajiban sesuai isi kontrak dan pelatih juga bebas menentukan pilihan.
Tetap saja, pertanyaan masih membuat penasaran, apakah puasa menguntungkan dari segi fisik seorang pemain.
Kepada Mohammed Bhana dari GOAL.com, dokter FIFA Yacine Zerguini menyatakan awal pekan ini, "Cara terbaik menurutku adalah menghindari polemik ini. Kita harus mengkajinya dengan tenang."
"Tak ada penelitian ilmiah yang secara serius diterapkan selama bulan Ramadan berkaitan dengan efeknya terhadap kesehatan pemain atau bahkan membuat penampilan mereka menurun."
"Penelitian yang terbaru, seperti yang dilakukan Umid Karli et. al dari Turki, dan oleh F-MARC dan FIFA (Zerguini, Dvorak, et.al) yang dilansir Desember 2008 dalam suplemen jurnal Sport Sciences, membuktikan hal yang sebaliknya."
"Puasa tidak membahayakan, malah sebuah anugerah. Semua studi terbaru membuktikannya tidak berdampak negatif kepada penampilan."
Dalam penelitian F-MARC, Dr. Zerguini menjelaskan ada pandangan utama tentang sepakbola dan puasa bahwa dalam lingkungan yang terkendali, strategi bisa diterapkan untuk mencegah efek buruk.
Penelitian tidak memberikan jawaban yang bisa membuktikan pandangan bahwa menunjukkan puasa secara langsung membuat penampilan menurun, juga tidak membahayakan bagi para pemain.
Dalam penelitian tersebut, 55 pemain Aljazair menjadi obyek penelitian selama Ramadan untuk dilihat kondisi serta penampilan fisik mereka. Hampir 70 persen responden merasa kondisi mereka menurun selama latihan, sedangkan data menunjukkan ada penurunan "signifikan" dalam kecepatan dan menggiring bola.
"Fase tanpa asupan makanan dan pola tidur yang berubah mengakibatkan perubahan penampilan secara fisik. Atlet beragama Islam harus membuat strategi yang bisa memaksimalkan penampilan selama Ramadan," bunyi kesimpulan penelitian.
Namun, dalam penelitian F-MARC selanjutnya, versi 2008, memberikan hasil pengamatan dari kelompok pemain yang berpuasa di tengah-tengah pemain yang tidak berpuasa.
"Tujuan utama penelitian ini memberikan informasi tambahan dan data ilmiah untuk memahami latar belakang filosofis agama Islam demi mengoptimalkan latihan harian dan daftar diet terkait penampilan pemain secara fisik dan mental," bunyi abstrak penelitian.
Satu-satunya hasil negatif dari kelompok yang berpuasa adalah mereka melaporkan merasa "kurang siap" berlatih dibandingkan kelompok yang tidak berpuasa. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan tak ada penurunan dalam penampilan fisik, mungkin disebabkan karena pemahaman untuk memberikan asupan gizi setelah senja dan sebelum fajar sudah lebih baik.
"Dapat diperdebatkan bahwa dalam penelitian kurangnya asupan makanan dan minuman akan menimbulkan efek. Ramadan tidak berpengaruh langsung soal ini. Secara ilmiah, selama 24 jam, puasa Ramadan tidaklah puasa penuh! Hanya makan dan minum dalam jam yang berbeda," jelas Dr. Zerguini.
"Namun, konsep penting tentang siklus tidur dan aturan diet tak bisa diabaikan. Begitu juga dengan periode penting agar metabolisme pemain bisa beradaptasi dengan jadwal makan dan minum yang berubah."
Penelitian tahun 2006 memberi kesimpulan, "Penampilan fisik secara umum meningkat [saat berpuasa], tapi penampilan saat bertanding tidak dihitung. Kami merekomendasikan agar pemain mendapat cukup tidur dan gizi bagus selama Ramadan untuk menunjang penampilan serta kesehatan mereka secara umum."
Dalam kata lain, ada tiga hal utama dalam penelitian ilmiah yang dilakukan berkaitan dengan puasa.
Pertama, jika dikendalikan tanpa optimalisasi, puasa bisa mengakibatkan dampak negatif bagi beberapa pemain.
Kedua, banyak cara meminimalisir resiko menurunnya penampilan.
Ketiga, mengatur asupan makanan dan minuman selama jam-jam tidak berpuasa kemungkinan besar menjadi kunci terbesar untuk strategi yang sukses.
Dr. Zerguini memberikan kalimat penutup tentang pentingnya penelitian lebih lanjut, "Kami belum tahu terlalu banyak soal puasa Ramadan dan latihan. Debat ilmiah ini masih harus berlanjut dengan bantuan para profesional di bidangnya."
Daftar pustaka:
Zerguini Y., Dvorak J., et al (2008) 'Influence of Ramadan fasting on physiological and performance variables in football players: Summary of the F-MARC 2006 Ramadan fasting study', Journal of Sports Sciences, 26:1, S3 — S6
Zerguini Y., Kirkendall D., et al (2006) 'Impact of Ramadan on physical performance in professional soccer players', British Journal of Sports Medicine, 41, 398-400
Terima kasih atas tanggapan Anda!
Mohon tulis nama Anda!
Mohon tulis lokasi Anda!
Mohon tulis komentar Anda!
Fokus
- Jadwal Televisi 9-11 Februari
- HASIL POLING: Arsenal Mampu Tundukkan Chelsea
- SPESIAL: Top 10 Transfer Musim Dingin
- VIDEO: Lace Up, Save Lives
- Jadwal Televisi 3-5 Februari 2010
- GOAL.com Raih Penghargaan Web Terbaik!
- CATATAN Bursa Transfer: Eropa Ketakutan "Efek Portsmouth"?
- LAPORAN: Detik-Detik Terakhir Jendela Transfer Januari 2010
- Roma Tolak Bujukan Bari Bagi Cerci
- LAPORAN: SAFFC 3-0 Sriwijaya FC
Iklan
Terlaris Dibaca
- Drogba Dipuji, Drogba Dibenci
- Persib Sebut Kebanjiran Pemain Pelamar
- SPESIAL: Sepuluh Skandal Perselingkuhan Di Sepakbola Paling Mencuri Perhatian
- Tekuk Fiorentina, Roma Geser Milan
- Mourinho Suka Bekerja Di Inter, Tapi Tidak Cinta
- Tekuk Cagliari, Inter Perlebar Jarak
- Paolo Maldini Bermain Lagi?
- Ronaldinho Diizinkan Dugem, Asal...
- Mourinho Puji Kehebatan Pandev
- Hasil Drawing Piala Eropa 2012: Spanyol Di Grup Mudah
- Zac Kritik Diego-Melo
Iklan
Iklan