Iklan
FOKUS: Ballon D'Or, Antara Berkah Dan Kutukan
Sekelumit kisah tentang Ballon d'Or, salah satu penghargaan individual bergengsi untuk mereka yang bertitel terbaik di lapangan hijau.
30 Nov 2009 23:25:00
Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka
Hal-Hal Terkait
Pemain
Penghargaan Ballon d'Or [secara harfiah berarti "Bola Emas"] mulai diberikan sejak 1956 oleh majalah France Football khusus kepada para pemain terbaik Eropa. Setiap tahunnya 56 jurnalis pilihan majalah sepakbola Prancis itu memilih pemain yang berpenampilan terbaik dengan penghargaan pertama diberikan kepada pemain Blackpool, Stanley Matthews.
Hingga 1995, hanya pemain yang berkebangsaan di benua Eropa saja yang berhak diberikan Ballon d'Or. Kriteria ini kembali mengalami perluasan pada 2007, saat wilayah pemberian penghargaan juga tidak hanya diperuntukkan kawasan Eropa, tapi juga para pemain dari Qatar, Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, dan Argentina.
Sebelum memasuki tahap final, tim redaksi France Football sudah menentukan 30 nama nominator. Kriteria pemilihan berdasarkan:
- Penampilan individual pemain dan tim sepanjang tahun. Jadi, pemain yang membantu timnya menjuarai sebuah gelar lebih berpeluang menang daripada mereka yang mendekam di papan tengah.
- Kemampuan sang pemain di atas lapangan, disertai sikap fair play.
- Kemajuan karir sang pemain.
- Perilaku sang pemain di luar lapangan.
Pemenang akan diumumkan 1 Desember, sedangkan upacara pemberian gelar dilakukan 6 Desember.
Kandidat utama pemenang Ballon d'Or diperkirakan takkan lepas dari dua nama berikut ini: Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Dua nama kuda hitam yang harus diperhitungkan adalah duet gelandang Barcelona, Xavi Hernandez dan Andres Iniesta.
Sebelum menentukan kandidat pilihan Anda, mari sedikit mengilas balik para pemenang dan alasan terpilihnya dalam 11 tahun terakhir.
1998. Zinedine Zidane: Kemenangan yang Pasti.
Bintang yang bersinar pada sebuah turnamen internasional hampir selalu menjadi kandidat utama pemenang Ballon d'Or. Satu dasawarsa lalu, bola emas direngkuh Zidane berkat kepahlawanannya saat membawa Prancis menjuarai Piala Dunia. Dua sundulan Zizou membekuk Brasil di final, sedangkan di tingkat klub Juventus dibawanya menjuarai Serie A Italia dan runner up Liga Champions. Zizou mengalahkan topskor Piala Dunia Davor Suker dengan angka telak, 244 melawan 68 poin. Pemenang penghargaan setahun sebelumnya, Ronaldo, berada di posisi ketiga dengan 66 poin.
1999. Rivaldo: Tahun Keemasan.
Lagi-lagi pemenang edisi tahun ini berasal dari tim pemenang turnamen internasional. Di Amerika Selatan, turnamen bergengsi memang berlangsung setiap tahun ganjil. Brasil menjuarai Copa America dengan penampilan gemilang Rivaldo. Tahun ini periode keemasan pemain Barcelona itu karena dirinya juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FIFA. Kini, Rivaldo masih aktif di lapangan hijau dengan bermain untuk klub Uzbekistan, Bunyodkor.
2000. Luis Figo: Setipis Rambut.
Tak jarang perebutan Ballon d'Or begitu sengit sehingga sulit mengira siapa pemenangnya. Pada edisi ini, Figo melampaui Zizou dengan selisih tipis, 197 lawan 181 poin. Mungkin ini dampak kepindahan sensasional Figo dari Barcelona ke Real Madrid pada pertengahan tahun. Uniknya, Figo meraih bola emas tanpa memenangi gelar apapun bersama klub tahun itu. Sukses baru diraih musim berikutnya berupa mahkota Primera Liga Spanyol -- plus gelar Pemain Terbaik FIFA.
2001. Michael Owen: Utang yang Belum Terbayar.
Edisi kali ini menghasilkan pemenang kejutan. Sejak "memperkenalkan diri" pada Piala Dunia 1998, Owen diramal menjadi pemain bintang. Tahun ini setidaknya ramalan itu jadi nyata. Owen tampil hebat saat membawa Liverpool meraih treble unik: juara Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA. Sayangnya, karir mantan anak emas Inggris ini tak pernah lagi lebih baik dari ini.
2002. Ronaldo: Kembali Ke Puncak Dunia.
Rumus lama kembali dipakai. Ronaldo, yang pernah menyabet Ballon d'Or dua kali beruntun pada 1996-97, kembali ke panggung penghargaan berkat aksi inspiratif di Piala Dunia. Memang Ronnie hanya bermain 60 kali, plus 37 gol, untuk klub sepanjang tahun akibat deraan cedera. Tapi, seiring rekor gol yang diciptakannya saat meraih sepatu emas Piala Dunia, juri tak bisa berpaling dari namanya.
2003. Pavel Nedved: Obat Duka.
Sederhana saja, pada tahun ini, Nedved tampil tak tersentuh. Pemain Ceko ini membawa Juventus meraih scudetto dua musim berturut-turut dan masuk final Liga Champions. Sayang, kartu kuning pada semifinal melawan Real Madrid membuatnya absen di final, saat Bianconeri membutuhkan jasanya sebelum ditaklukkan AC Milan melalui adu penalti. Nedved dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Serie A dan Pemain Terbaik Liga Champions pada tahun yang sama. Kesetiaannya bersama Juve tak ada duanya, bahkan saat klub harus berkutat di Serie B.
2004. Andriy Shevchenko: Terbang Tinggi.
Ballon d'Or adalah puncak karir Sheva. Benar-benar puncak, karena setelah itu karirnya malah menukik. Namun, yang lebih mesti diingat, Shevchenko adalah alasan utama kegemilangan Milan tahun ini. Rossoneri dibawanya meraih scudetto pertama sejak pergantian abad dan ditambah dengan gelar topskor Serie A. Meski fakta menunjukkan kegagalannya mengeksekusi penalti ke gawang Liverpool di final Liga Champions tahun berikutnya dan kepindahan ke Chelsea malah membuat redup permainannya.
2005. Ronaldinho: Sejuta Pujian.
Gelar Piala Dunia FIFA, juara Primera Liga, dan juara Piala Konfederasi bersama Brasil adalah koleksi yang melengkapi lemari penghargaan pribadi Dinho tahun ini. Dianggap pantas menjadi pemain terbaik dunia berkat bakat hebatnya di lapangan hijau, Dinho mengantarkan Barcelona menjuarai Liga Champions tahun berikutnya. Setelahnya, adalah pertanyaan besar semua orang. Apakah karirnya sudah habis? Apakah dia masih ingin berprestasi? Apakah dia masih gemar ke kelab malam? Masih berusia 27 tahun, Dinho punya banyak waktu untuk menjawabnya.
2006. Fabio Cannavaro: Bek Terhebat Dunia.
Wajar kalau penghargaan lebih banyak diberikan kepada gelandang atau penyerang karena mereka lebih berpeluang menghibur penonton. Kalau ada bek yang bisa menjadi yang terbaik, artinya dia benar-benar luar biasa. Cannavaro adalah satu dari sedikit pemain belakang yang pernah memenangi Ballon d'Or. Istimewanya, di posisi runner-up juga diduduki pemain defensif, yaitu Gianluigi Buffon, rekan Canna di Juve dan timnas Italia. Satu-satunya alasan kemenangan tersebut adalah kegemilangan Canna di Piala Dunia. Sayangnya, sejak menjadi yang terbaik dan pindah ke Madrid, kualitas permainan Canna belum lagi kembali setangguh dulu.
2007. Kaka: Inspirasi Liga Champions.
Kaka adalah penghibur nomor wahid di jagad sepakbola setahun silam. Sentuhannya memberikan kemenangan, sekaligus balas dendam, Milan atas Liverpool di final Liga Champions. Turnamen antarklub paling bergengsi di Eropa itu menjadi ajang pembuktian legenda seorang Kaka, saat dirinya juga menjadi topskor turnamen dengan 10 gol. Kaka meninggalkan jauh dua pesaingnya saat itu, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, dengan raihan 444 poin. Ronaldo dan Leo masing-masing hanya meraih 277 dan 255 poin.
2008. Cristiano Ronaldo: Kemenangan Mutlak.
Keberhasilan Ronaldo membawa Manchester United menjuarai Liga Champions dan Liga Primer Inggris tahun lalu tak terbantahkan di panggung Ballon d'Or. Sulit menggeser Ronaldo dari kursi pemenang favorit karena tahun itu memang miliknya. Secara pribadi, Ronaldo mengukir rekor 42 gol dalam 49 penampilan di semua ajang pada musim 2007/08. Raihan poin Ronaldo, 446, jauh di atas Lionel Messi (281 poin) dan Fernando Torres (179).
Seperti yang ditunjukkan dalam pemenang terdahulu, penghargaan sekelas Ballon d'Or tak selalu menjanjikan kegemilangan karir pemenangnya di masa depan. Ada banyak alasan: konsistensi, kemauan, semangat, kerja keras, bahkan ambisi. Pilihan selalu ada di tangan sang nomor satu.
Untuk tahun ini, apakah itu berkah ataupun kutukan, semoga pemenangnya benar-benar layak mendapatkan Ballon d'Or.
Terima kasih atas tanggapan Anda!
Mohon tulis nama Anda!
Mohon tulis lokasi Anda!
Mohon tulis komentar Anda!
Fokus
- SPESIAL: Sepuluh Tim Paling Dibenci
- SPESIAL: Sepuluh Pemain Yang Terlalu Dilebih-Lebihkan
- PANDUAN Piala Dunia 2010: Inilah Stadion Nelson Mandela Bay
- PANDUAN Piala Dunia 2010: Inilah Stadion Mbombela
- TERBAIK & TERBURUK Sevilla 1-2 CSKA Moskwa
- PERANG BINTANG: Girondins Bordeaux vs Olympiakos
- Jadwal Televisi 16-18 Maret 2010
- PANDUAN Piala Dunia 2010: Inilah Stadion Moses Mabhida
- CATATAN Eredivisie Belanda: Sudah Jadi Semenjana Di Eropa
- CATATAN Bundesliga Jerman: Tantangan Besar Leverkusen
Iklan
Terlaris Dibaca
- SPESIAL: Sepuluh Tim Paling Dibenci
- SPESIAL: Sepuluh Pemain Yang Terlalu Dilebih-Lebihkan
- Mourinho Menggila Di Kamar Ganti
- HUMOR: Sepuluh Potongan Rambut Paling Edan Dalam Sejarah Piala Dunia
- Inter Permalukan Chelsea
- Ancelotti Ejek Mourinho
- RAPOR PEMAIN: Chelsea 0-1 Inter Milan (Agregat 1-3)
- Lippi: Inter Bukan Italia!
- Man Of The Match Untuk Mourinho
- Mourinho Siap Tinggalkan Inter Milan
- Ingin Lawan Mudah, Inter Milan Berharap Treble
Terlaris Dibahas
- SPESIAL: Sepuluh Tim Paling Dibenci
1020 - SPESIAL: Sepuluh Pemain Yang Terlalu Dilebih-Lebihkan
192 - PERANG BINTANG: Girondins Bordeaux vs Olympiakos
7 - PANDUAN Piala Dunia 2010: Inilah Stadion Nelson Mandela Bay
7 - Jadwal Televisi 16-18 Maret 2010
6 - TERBAIK & TERBURUK Sevilla 1-2 CSKA Moskwa
4
Iklan
Send to Friend
